Sunday, October 22, 2006


APA KABAR

Udara terasa dingin saat kubuka jaket lusuhku,
Ternyata saya telah tiba di bandara itu,
Bandara tempat tiba wanita itu,
Yang selama ini kurindu.

Saya tak percaya pada cinta pertama,
Begitu pula saat bertemu dengannya,
Semua begitu biasa,
Begitu wajar.

Tapi waktu merubah semua,
Perlahan keakraban mulai mewarnai hariku,
Mewarnai tiap waktu dan tempatku,
Hingga terbawa ke alam bawah sadar.

Awalnya logika menolak,
Ada hal yang sangat bertentangan,
Perbedaan yang terlalu menonjol,
Dan norma yang membatasi.

Kucoba menahan diri,
Bersikap seperti biasa,
Menunggu dan melihat,
Seperti layaknya orang ketiga.

Tapi seiring dangan waktu,
Perasaan itu semakin bertambah,
Terakumulasi dalam kegelapan,
Dan menunggu waktunya.

Saat dia pergi menjauh,
Hariku menjadi hampa,
Bagaikan gelas kosong,
Tiada makna.

Hari ini dia akan kembali,
Dari tempat yang jauh,
Kembali ke kota ini,
Ke kehidupanku.

Dia akan mengisi hidupku lagi,
Walaupun tak ia sadari,
Tak ia mengerti,
Karena itu mungkin yang terbaik.

Saat pandangan bertemu,
Kami tersenyum,
Kusapa dia,
Apa kabar !!!

Malam

Aku adalah sang malam,
Penuh dengan warna gelap,
Dengan cahaya suram,
Mencoba menjadi penuntun.

Aku adalah sang malam,
Yang rindu akan hiruk pikuk,
Yang menanti keramaian,
Tak kunjung datang.

Sang malam,
Yang berujung di terang,
tapi tak pernah melihat cahaya.

Sang malam,
yang mengawali hari,
tapi tak pernah melihat hari.